RSS

Pengembangan Kurikulum

31 Oct

PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

 

1. PENGERTIAN KURIKULUM

 

Berasal dari bahasa Yunani yang berarti jarak yang ditempuh. Secara Etimologis berarti sejumlah pelajaran yang harus ditempuh dalam satuan waktu.Devinisi kurikulum :

a. Tradisional

Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang akan diberikan dalam satuan waktu.

b. Modern

Kurikulum adalah keseluruhan usaha untuk mempengaruhi belajar baik dikelas ataupun diluar untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh suatu lembaga pendidikan.

Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Menurut Hamalik (1995:18) dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Ahli kurikulum Hilda Taba sebagaimana dikutip oleh  Nasution (2001:7) berpendapat bahwa “pada hakikatnya tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakat”.

Jadi kurikulum adalah suatu patokan rencana-rencana dalam hal penyelenggaraan pembelajaran, yang memiliki tujuan dan cita-cita tertentu yang berlandaskan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang bersifat flexsible/ dapat mengalami perbaikan dan didisain oleh suatu lembaga pendidikan agar peserta didiknya memiliki representasi fungsi langsung didalam masyarakat. Maksud fungsi langsung disini adalah langsung terlihat manfaat dari praktek-praktek berlandaskan teori yang didapatkan dari pelajaran-pelajaran disekolah baik yang dilakukan oleh sekolah di sekolah ataupun dilakukan diluar sekolah.

2.KOMPONEN-KOMPONEN PEMBENTUK KURIKULUM

 

  1. Komponen Tujuan

Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Dengan membuat tujuan yang pasti, itu akan membantu dalam proses pembuatan kurikulum yang sesuai dan juga membantu dalam pelaksanaan kurikulumnya  agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

 

  1. Komponen Isi atau Materi dalam Kurikulum

Komponen isi atau materi dalam kurikulum merupakan apa-apa yang akan diberikan atau diajarkan kepada peserta didik agar peserta didik dapat memiliki keterampilan atau bahkan dapat membuat prestasi yang merupakan tujuan dari dijalankannya kurikulum tersebut. Materi yang ada dalam kuirkulum haruslah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mencapai tujuan dan materi yang ada juga haruslah menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, seperti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

  1. Komponen Metode atau Strategi

Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup penting karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum tersebut menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai atau tidak. Sebagus apapun tujuan atau materi yang dibuat dalam kurikulum, tapi apabila metode atau strategi yang digunakan tidak tepat, maka tujuan dari kurikulum tersebut tidak akan mudah dicapai atau bahkan tidak tercapai sama sekali. Untuk itu pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.

  1. Komponen Evaluasi

Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembetuk kurikulum yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah dibuat itu tercapai atau tidak, selain itu dengan melakukan evaluasi, kita dapat mengetahui apabila ada kesalahan pada materi yang diberikan atau metode yang digunakan dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil dari evaluasi tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki kesalahan yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang sudah baik atau berhasil.

3. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

Prinsip pengembangan KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) adalah (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; (2) Beragam dan terpadu; (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan; (5) Menyeluruh dan berkesinambungan; (6) Belajar sepanjang hayat; (7) Dan seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, KTSP sangat relevan dengan konsep desentralisasi pendidikan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) yang mencakup otonomi sekolah di dalamnya. Pemerintah daerah dapat lebih leluasa berimprovisasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah bersama komite sekolah diberi otonomi menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan di lapangan (Abd. Halim Fathan, 2007: 2).

4.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

1.    Keragaman sosial budaya nasional menjadi   dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi.

Keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi  adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Realita tersebut   memang berposisi sebagai objek periferal dalam proses pengembangan kurikulum nasional. Masyarakat sebagai sumber belajar harus dapat dimanfaatkan sebagai   sumber konten kurikulum. Oleh karena itu, nilai, moral, kebiasaan,   dan adat/tradisi harus dapat diakomodasi   dalam kurikulum. Selanjutnya kurikulum   harus dapat menunjang tujuan kurikulum dalam mengembangkan kualitas   kemanusiaan peserta didik. Selain agama, kesusateraan, bahasa,   olahraga, dan kesenian merupakan konten yang dapat menunjang   pengembangan kemanusiaan siswa.

2.    Lingkungan unit pendidikan yaitu guru, sumber belajar dan objek belajar yang merupakan bagian dari kegiatan belajar siswa.

Pengembangan kurikulum sebagai proses terjadi pada unit pendidikan   atau sekolah. Pengembangan ini haruslah didahului oleh sosialisasi agar para pengembang (guru) dapat mengembangkan kurikulum dalam bentuk   rencana pelajaran/satuan pelajaran, proses belajar di kelas, dan   evaluasi yang sesuai. Sekolah bersama dengan komite sekolah dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah. Sekolah dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan, misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

3.        Kebutuhan daerah.

Kurikulum sebagai ide harus dikembangkan pada tingkat  nasional sedangkan kurikulum dalam bentuk dokumen dapat dikembangkan   di daerah. Keputusan   tentang jenis informasi, bentuk format GBPP, dan komponen kurikulum   (tujuan, materi, proses belajar, dan evaluasi) ditentukan pada tingkat daerah pula.

  • Soemanto Wasty,”Pembinaan Dan Pengembangan kurikulum”,Bina     Aksara Jakarta 1986

Permendiknas Nomer 22 Tahun 2006

Permendiknas Nomer 23 Standar Kompetensi Lulusan

UU Sisdiknas No. 20-2003

PP_19_2005_STANDAR_NAS_PENDDKN

KTSP-BSNP

permenag Nomer 2 tahun 2008

Contoh bahan ajar

KTSP-BSNP

Permendiknas No. 20 2007 tentang Standar Penilaian

 
Leave a comment

Posted by on October 31, 2011 in Pengembangan Kurikulum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: