RSS

Progresifisme

04 Jul

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.                Latar belakang

Progressivisme adalah salah satu aliran filsfat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran bersifat empiris, prakmatis, rasionalis, mateialis, dan berkemajuan (progress). Karena sifatnya yang progress atau bekemajuan, maka aliran ini sangat peka dengan perubahan, bahkan sering kali aliran ini menjadi pelopor bagi segala bentuk perubahan.

Pandangan progressivisme tersebut bertolak belakang dengan pandangan perenialisme yang berpegang teguh pada paham dan kebenaran yang telah mapan dan terkesan sangat hati-hati—untuk tidak mengatakan anti terhadap perubhan. Sebab, perenialisme enggan mejajajal “menu/ramuan” baru atau kebenaran baru yang belum tentu lezat dan teruji khasiat maupun keampuhannya oleh rentang waktu dan sejarah. Perenialis berargmen, jika telah ada kebanaran atau pemahaman lama yang telah teruji akan khasiat dan keampuhannya, mengapa mesti mecoba hal-hal baru yang kadar kebenarannya belum tentu lebih baik dari pada paham lama? Apakah kebenaran baru yang selalu dilahirkan progrssifisme mempunyai prediksi rasional-ilmiah yang kadar kebenarannya setara dengan kebenaran lama yang telah teruji oleh rentang dan waktu bersejarah.

Sebagai aliran atau paham filsafat, progresifisme harus mampu membuktikan bahwa pemahamannya yang progressif juga mengandung kebenaran-kebenaran universal sebagaimana dipegang kaum perenial. Pertanyaannya, bagaimana progressifisme mengadopsi nilai-nilai kebenaran yang telah mapan di era modern dan post modern? Bagaiamana progressifisme dapat meyakinkan dunia bahwa paham kemajuan yang diusungnya berdampak positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan?

Dalam konteks pendidikan, progressivisme mencita-citakan peserta didik tumbuh-kembang sesuai bakat dan potensi serta keunikan dirinya untuk masyarakat modern yang tanggap terhadap perubahan. Pertanyaanya, bagaimana progressifisme tetap bisa memelihara nilai-nilai uniersal seperti kebaikan, kejujuran, keshalihan, dll bahkan termasuk pemahaman lama yang masih di pandang baik

Progressivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi masalah mereka sendiri. Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asas progressivisme dalam semua realitas, yaitu tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Berhubungan dengan itu progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.

Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan, karena kurang menghargai dan memberikan tempat yang layak untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki manusia dalam proses pendidikan.

Saat ini dunia pendidikan kita sedang dihadapkan oleh suatu krisis, yaitu bagaimana menerapakan suatu pendidikan yang ideal untuk menghadapi dunia persaingan sebagai dampak dari arus globalisasi. Sekarang ini kita mulai masuk pada zaman yang serba modern, kita haruslah senantiasa mengikkuti perkembangan zaman agar tidak dapat dibodohi oleh siapapun. Dengan begitu manusia yang hidup didunia ini dapat memenuhi kehidupannya di zaman yang modern. Untuk dapat senantiasa mengikuti perkembangan zaman maka kita sangat membutuhkan suatu informasi ataupun pengetahuan yang berkaitan dengan hal tersebut. Untuk itu salah satunya jalan yaitu melalui dunia pendidikan yang selalu memberikan informasi-informasi terkini mengenai perkembangan zaman. Apalagi pandangan masyarakat, khususnya di Indonesia ini dalam hal pendidikan yang diakui yaitu dalam pendidikan formal. Padahal sebenarnya kita dapat memperoleh ilmu ataupun pengetahuan dimana saja dan kapan saja selain dari sekolah atau pendidikan formal. Solusi sementara mengenai hal tersebut yaitu dari pihak penyelenggara pendidikan formal atau biasa kita sebut dengan sekolah itu, haruslah dapat menyajikan materi-materi yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang mereka hadapi beserta dengan problem solvingnya. Dalam aliran progressivisme ini diharapkan kita dapat melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik guna mencapai tujuan dengan mengembangkan kemampuan serta potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Selanjutnya pemakalah akan memaparkan implikasi aliran progressivisme dalam pendidikan agar dapat mencapai suatu pendidikan yang ideal menurut aliran ini.

  1. B.                 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas adalah:

  1. Apakah hakikat filsafat pendidikan progressivisme?
  2. Bagaimana implikasi progressivisme dalam pendidikan, ditinjau dari tujuan pendidikan, kurikulum dan guru, kedudukan peserta didik, serta metode pembelajaran?

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.                Sejarah Aliran Progresifisme

Progresifisme dalam pendidikan adalah bagian dari gerakan reformasi umum sosial-politik yang menandai kehidupan Amerika di akhir abad XIX dan awal abad XX, disaat Amerika berusaha menyesuaikan diri dengan urbanisasi dan industrialisasi masif. Progresifisme dalam politik adalah bukti nyata dalam karir para tokoh utama semisal Robert La Follete dan Woodrow Wilson, yang berupaya mengekang kekuasaan perserikatan dan monopoli, dan berupaya menjadikan sistem demokrasi politik bisa berjalan dengan baik. Dalama renasosial, kalangan progresif semacam Jane Addams berjuang dalam gerakan rumah hunian penduduk untuk mengembangkan kesejahteraan sosial di Chichago dan wilayah-wilayah urban lainya. Reformasi dan pembaruan dikalangan progresif sangat banyak.

Progresifisme sebagai sebuah teori pendidikan muncul sebagai bentuk reaksi terbatas terhadap pendidikan tradisional yang menekankan methode-methode normal pengajaran, belajar mental (kejiwaan), dan kesusastraan klasik peradaban barat. Pengaruh intelektual utama yang melandasi pendidikan progresif adalah John Dewey, Sigmund Freud, Dan Jean Jacques Rousseau. Dewey menjadikan sumbangan pemikirannya sebagai filsuf aliran pragmatis yang menuliskan banyak hal tentang landasan-landasan filosofis pendidikan dan berupaya menguji keabsahan gagasan-gagasanya dalam laboratorium sekolahnya di Universitas Chichago. Dengan demikian pragmatisme mempunyai pengaruh utama dalam pendidikan progresif. Pengaruh kedua adalah teori psikoanalisis Freud. Teori Freudian menyokong banyak kalangan progresif dalam mencuatkan suatu kebebasan yang lebih bagi ekspresi diri diantara anak-anak dan suatu lingkungan pembelajaran yang lebih terbuka dimana anak-anak dapat melepaskan energi dorongan-dorongan instingtif mereka dalam cara-cara yang kreatif. Pengaruh ketika adalah karya Emile (1762) Rousseau. Karya ini secara khusus menarik hati kalangan progresif yang menentang terhadap adanya camput tangan orang-orang dewasa dalam menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran atau kurikulum subjek didik.

Pengaruh-pengaruh intelektual yang mendasar itu dikembangkan kedalam teori pendidikan progresif oleh sebuah ahli pendidikan ternamayang aktif menerapkan teori-teori mereka pada sekolah. Carleton washburne, william h. Kilpatrick, harold rugg, george s. Counts, boyd h. Bode, dan john l. Childs adalah ujung tombak pengembangan aliran pemikiran progresif yang beragam. Melaui pengaruh dan kekuatan mereka,pendidikan progresif menjadi teori dominan dalam pendidikan amerika dari dekade 1920-an hingga 1950-an. Pada pertengahan 1950-an,ketika pendidikan progresif kehilangan eksistensi keorganisasiannya, ia telah mengubah wajah pendidikan Amerika. Barangkali sebagian dari alasan kematian organisasinya adalah kenyataan bahwa berbagai ide-gagasan dan program pendidikan progresif telah diadopsi bersama, sampai beberapa tingkatan, oleh pendirian sekolah umum, dan karena itu kalangan progresif kurang terdengar teriakannya. Dari sini, tampak bahwa kesuksesan mereka mengarah pada kepudarannya. Disisi lain, perlu disadari bahwa teori progresif dalam keutuhannya tidak pernah menjadi praktik utama dalam lingkup luas sistem-sistem sekolah, apa yang diadopsi adalah serpihan-serpihan progresifisme yang dicampur dengan methode-methode lain dalam corak eklektik.

Kalangan progresif tidak akan dilihat oleh sebuah kelompok yang terpadu dan seragam menyangkut semua persoalan teoritis. Sungguhpun mereka seragam dalam penentangannya dalam praktek-praktek sekolah tertentu, allan ornstein menuliskan bahwa mereka secara umum mencerca hal-hal sebagai berikut:

  1. Guru yang otoriter
  2. Terlalu bertumpu pada teks books atau methode pengajaran yang berorientasi buku.
  3. Belajar pasif dengan penghafalan informasi dan data faktual.
  4. Pendekatan empat dinding bagi pendidikan yang berusaha mengisolasikan pendidikan dari realitas sosial.
  5. Penggunaan hukuman menakutkan atau fisik sebagai suatu bentuk pendisiplinan.

Kekuatan organisasional utama progresifisme dalam pendidikan adalah asosiasi pendidikan progresif (1919-1955 M). Pendidikan progresif harus dilihat, baik sebagai gerakan terorganisir maupun sebagai teori jika seseorang berupaya memahami sejarah dan pengaruhnya. Dalam kedua sisi itu pendidikan progresif mencuatkan inti prinsip-prinsip pokok. Beberapa ide-ide gagasan progresif telah diperbaharui dalamorganisme pendidikan yaitu akhir dekade 1960-an dan awal 1970-an.[1]

Disamping pengaruh-pengaruh tokoh filsafat diatas, ada pula pengaruh kebudayaan yang secara khusus ditulis oleh Brameld sebagai empat faktor kebudayaan yang berpengaruh atas perkembangan progresifisme. Sebagaimana dikutip oleh Mohammad Noor Syam.

  1. Revolusi industri

Revolusi industri adalah istilah yang dipakai untuk suatu era dari ekonomi modern yang merubah keadaan sosial politik manusia. Era ini ditandai dengan komerosotan feodalismedan timbulnya serta matngnya kapitalisme.

Dengan revolusi industri pengaruhnya sangat besar atas sikap manusia terutama pada masalah-masalah kekuatan manusia atas alam dalam rangka eksplorasi alam bumi dam penggunaan tenaga mesinn untuk produksi. Secara psikologis memberikan dasar kepercayaan pada diri sendiri dimana manusia mampu menguasai alam.manusia mulai sensitif atas kebebasan dan kemerdekaan dalam sistem ekonomi yang didasarkan pada kompetisi persaingan bebas.

Pengaruh ekonomi terutama terhadap tenaga kerja, masalah kependudukan dikota-kota industri dan kota perdagangan, pelabuhan. Semua prosesdan antaraksi tersebut memberikan pengaruh atas proses kehidupan manusia, khususnya jjuga dalam pendidikan.

  1. Modern science

Ilmu pengetahuan modern berkembang sejalan dan erat hubunganya dengan revolusi industri. Bahkan hubungan keduanya bersifat kausalitas, sebab-akibat. Sebagai akibat (effect) sebab perkembangan science didorong dan ditopag oleh kemajuan ekonomi; sebagai sebab, karena science adalah alat utama dalam membina mesin/teknik untuk mengeksplorasi sumber-sumber alamiah. Science telah merubah dan memajukan efisiensi, perluasan, dan peningkatan produksi, penemuan sistem ekonomi baru, administrasi dan sebagainya.

Sumbangan utama ilmu pengetahuan modern yang amat bermanfaat bagi filsafat progresifisme ialah dalam kekuatan metode-metode baru dalam membina kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungan. Yakni cara-cara yang timbul dan berkembang didalamkondisi-kondisi lingkungan hidup itu sendiri seperti pengujian terhadap suatu teori, analisa dan proses kejelasan sesuatu, dan kontrol atas induksi makin utama dabandingkan dengan methode deduksi.

Diakui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sudah dimulaizaman renaissance. Tetapi perkembangan ilmu pengetahuan dalam dua abad terakir ini melebihi apa yang telah dicapai oleh seluruh sejarah sebelumnya.

  1. Perkembangan demokrasi

Seperti juga perkembangan industri dan science, maka perkembangan masyarakat demokrasi amat berpengaruh atas kebudayaan modern umumnya, khususnya kepada progresivisme. Malahan ketiga bidang itu, industri, science, dan demokrasi langsung ataupun tak langsung mempunyai pengaruh satu sama lain.

Pengaruh demokrasi, seperti pengakuan atas hak asasi dan martabat manusia, berarti memberi kemungkinan bagi perkembangan maksimal kepribadian manusia.

Walaupun diakui akar ide demokrasi berasal dari ajaran univeresal agama yahudi-kristen, yakni “of respect for personality and faith in human brotherhood” dan juga dari warisan filsafat yunani tentang pemujaan atas potensi rasional manusia, namun implementasi dari demokrasi baru dalam zaman reneissance. Manusia baru menyadari nilai demokrasi, praktek-praktek sosial kenegaraan, dan ilmu pengetahuan. Demokrasi dan perkembangan ilmu pengetahuan saling mempengaruhi, dan itu nyata setelah berakirnya abad pertengahan dan dimulainya zaman reneissance.[2]

  1. B.                 Esensi Ajaran Progresifisme

Progressivisme secara bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Aliran ini juga beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, kesejahteraan, dan mengembangkan kepribadian manusia.

Filsafat progressivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan, menolak absolutisme dan otoriterisme dalam segala bentuknya. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. Dengan demikian aliran progressivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi nilai demokratis, sehingga progressivisme dianggap sebagai The Liberal Road of Culture (kebebasan mutlak menuju arah kebudayaan), maksudnya nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran, dan terbuka. Progressivisme menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah dan peneliti untuk mengembangkan pengalamannya. Mereka harus bersikap terbuka dan berkemauan untuk mendengarkan kritik dan ide-ide lawannya juga memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan pendapatnya.

Aliran progressivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia, yaitu kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir. Jadi, manusia sejak lahir telah membawa bakat dan potensi dasar, terutama daya akalnya. Sehingga daya akal manusia mampu mengatasi segala problematika yan timbul dalam hidup. Nampak bahwa aliran filsafat progressivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku di dalam hidupnya. [3]

Progresifisme memiliki ciri utama, yakni mempercayai manusia sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya yang multi kompleks dengan skill dan kekuatan sendiri. Dan dengan kemampuan itu manusia dapat memecahkan semua problemnya secara inteligen, dengan inteligensi aktif. Dan dalam makna ini, maka arti liberal diatas berarti menghormati martabat manusia, menghormati harga manusia sebagai subjek didalam hidupnya. Dalamarti demokrasi, pandangan-pandangan progresifisme merupakan cara berpikir liberal, yang memberi kemungkinan dan pra syarat bagi perkembangan tiap pribadi manusia sebagaimana potensi yang ada padanya.

Sebagai ciri utama lain progresifisme adalah satu filsafat transisi antara dua konfigurasi kebudayaan yang besar. Progresifisme adalah rasionalisasi mayor daripada suatu kebudayaan, yakni:

  1. Perubahan yang cepat dari pola-pola kebudayaan barat yang diwarisi dan dicapai dari masa silam.
  2. Perubahan yang cepat menuju pola-pola kebudayaan baru yang sedang dalam proses pembinaan untuk masa depan.[4]

Progressivisme sebagai teori pendidikan muncul sebagai bentuk reaksi terhadap pendidikan tradisional yang menekankan metode-metode formal pengajaran, belajar mental (kejiwaan), dan sastra klasik peradaban Barat. John Dewey, sebagai salah satu tokoh aliran progressivisme memberi kritik pada sekolah kuno, yakni:

  1. Di sekolah kuno menurutnya terlalu banyak mata pelajaran yang diajarkan, karena tujuan sekolah kuno adalah agar para siswa kelak dapat menduduki jabatan intelektual, dan bahan pelajaran menjadi pusat (materio sentries). Hal ini menurutnnya tidak sesuai dengan realitasnya bahwa hanya sebagian kecil sajalah yang akan memenuhi tujuan itu. Begitulah tidak boleh kebutuhan golongan yang terbesar dikalahkan dengan kebutuhan golongan yang kecil. Oleh karena itu mata pelajaran yang banyak jumlahnya dan menimbulkan pendidikan intelektualitas itu perlu dikurangi dan diganti dengan pengajaran dan latihan kerja. Dewey mengatakan “ tidak hanya dengan berhitung orang dididik berfikir, melainkan juga dengan bekerja.” Dengan bekerja berupa apapun, fikir dan intelegensi orang dapat dididik.[5]
  2. Kritik Dewey terhadap guru dan cara mengajar dinyatakan bahwa di sekolah kuno guru memiliki peran yang sangat menentukan segala sesuatu (guru-central). Gurulah yang memaksakan bahan pengajaran kepada anak, berfikir untuk anak, dan memecahkan soal untuk anak, sehingga yang aktif justru sang guru, bukan anak didik. Dengan cara mengajar seperti itu tidak mungkin anak mempunyai perhatian yang spontan atau minat langsung. Perhatian anak lebih karena paksaan, takut akan hukuman dan ancaman guru.[6]

Pengaruh intelektual utama yang melandasi pendidikan progresif adalah John Dewey, Sigmund Freud, dan Jean Jacques Rousseau. Dewey menjadikan sumbangan pemikirannya sebagai seorang filsuf aliran pragmatik yang menuliskan banyak hal tentang landasan-landasan filosofis pendidikan dan berupaya menguji keabsahan gagasan-gagasannya dalam laboratorium sekolahnya di Chicago. Teori Freudian menyokong banyak kalangan progresif dalam mencuatkan suatu kebebasan yang lebih bagi ekspresi diri di antara anak-anak dan suatu lingkungan pembelajaran yang lebih terbuka di mana anak-anak dapat melepaskan energi dorongan-dorongan instingtif mereka dalam dalam cara-cara yang kreatif. Kemudian pengaruh Rousseau. Karya ini secara khusus menarik hati kalangan progresif yang menentang terhadap adanya campur tangan orang-orang dewasa dalam menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran atau kurikulum subjek didik.[7]

Lingkungan dan pengalaman mendapat perhatian cukup dari aliran ini. Sehubungan dengan ini, menurut progressivisme, ide-ide, teori-teori atau cita-cita itu tidaklah cukup hanya diakui sebagai hal-hal yang ada, tetapi yang ada ini haruslah dicari artinya bagi suatu kemajuan atau maksud-maksud baik yang lain. Di samping itu manusia harus dapat memfungsikan jiwanya untuk membina hidup yang mempunyai banyak persoalan yang silih berganti. Memang progressivisme, kurang menaruh perhatian atas nilai-nilai yang non empiris seperti nilai-nilai supernatural, nilai universal, nilai-nilai agama yang bersumber dari Tuhan.

Meskipun banyak kritikan, namun progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar dalam dunia pendidikan dalam abad XX, karena telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak diberi kebebasan baik secara fisik maupun cara berfikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam di dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter, sebab pendidikan yang otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran, dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun secara psikis anak didik. Semua ini berkat jasa-jasa John Dewey sehingga progressivisme amat besar pengaruhnya dalam setiap pembaharuan di bidang pendidikan.[8]

Tulisan-tulisan John Dewey pada tahun 1920-an dan 1950-an berkontribusi cukup besar pada penyebaran gagasan-gagasan progresif. Progressivisme pengikut Dewey didasarkan pada keenan asumsi berikut ini:

  1. Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplin-disiplin akademik
  2. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungan dengan bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotor
  3. Pembelajaran pada pokoknya aktif bukannya pasif. Pengajar/guru yang efektif memberikan siswa pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan kegiatan
  4. Tujuan dari pendidikan adalah mengajar para siswa berpikir secara rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada anggota masyarakat
  5. Di sekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial
  6. Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu[9]

Pandangan progressivisme tentang realitas, seperti halnya pandangan John Dewey, bahwa “perubahan” dan “ketidaktepatan” merupakan esensi dari realitas. Menurut progressivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta perubahan lingkungan.

Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresivis sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, learning by doing, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Kualitas atau hasil dari pendidikan, tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan ukuran yang belaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus.[10]

Dengan demikian yang terpenting menurut teori pendidikan progressivisme adalah mengajarkan cara belajar yang tepat, sehingga seorang dapat belajar setiap saat dari realitas secara mandiri, baik di dalam maupun di luar sekolah, pada saat, sedang, ataupun setelah menyelesaikan pendidikan formal. Dengan cara demikian sekolah akan melahirkan individu-individu yang cerdas, kreatif, dan inovatif yang pada akhirnya dapat melakukan transformasi budaya positif ke arah yang lebih baik dari masyarakat yang progresif.

  1. 1.      Ontologi Progressivisme:

Pandangan ontologi progressivisme bertumpu pada tiga hal yakni asas hereby (asas keduniaan), pengalaman sebagai realita dan pikiran (mind) sebagai fungsi manusia yang unik. Ontologi Progressivisme adalah sebagai berikut:

a. Asas hereby ialah adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia.

b. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. Manusia punya potensi pikiran (mind) yang berperan dalam pengalaman. Pengalaman menurut Progressivisme:

1)   Dinamis, hidup selalu dinamis, menuntut adaptasi, dan readaptasi dalam semua variasi perubahan terus menerus

2)   Temporal (perubahan dari waktu ke waktu)

3)   Spatial yakni terjadi disuatu tempat tertentu dalam lingkungan hidup manusia

4)   Pluralistis yakni terjadi seluas adanya hubungan dan antraksi dalam mana individu terlibat.

  1. Pikiran (mind) sebagai fungsi manusia yang unik. Manusia hidup karena fungsi-fungsi jiwa yang ia miliki. Potensi intelegensi ini meliputi kemampuan mengingat, imaginasi, menghubung-hubungkan, merumuskan, melambangkan dan memecahkan masalah serta komunikasi dengan sesamanya. Mind adalah apa yang manusia lakukan. Mind pada prinsipnya adalah berperan di dalam pengalaman.
  2. 2.      Epistemologi Progressivisme:   

Pandangan epistemologi progressivisme ialah bahwa pengetahuan itu informasi,  fakta, hukum, prinsip, proses, dan kebiasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai proses interaksi dan pengalaman. Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkungan, ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan-catatan. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Semakin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktik, maka makin besar persiapan kita menghadapi tuntutan masa depan. Pengetahuan harus disesuaikan dan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Kebenaran adalah kemampuan suatu ide memecahkan masalah, kebenaran adalah konsekuen daripada sesuatu ide, realita pengetahuan dan daya guna dalam hidup.[11]

  1. Aksiologi Progressivisme:

Dalam pandangan progressivisme di bidang aksiologi ialah nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, dengan demikian menjadi mungkin adanya saling hubungan. Jadi masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu (Imam Barnddib, 1982). Nilai itu benar atau tidak benar, baik atau buruk apabila menunjukkan persesuaian dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan.[12]

  1. C.                Ciri Utama Aliran Progressivisme
    1. Pendidikan dianggap mampu merubah dalam arti membina kebudayaan baru yang dapat menyelamatkan manusia bagi masa depan.
    2. Percaya bahwa manusia sebagai subyek yang memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia dengan skill dan kekuatan mandiri.
    3. Progress yang menjadi inti perhatiannya, maka ilmu pengetahuan yang dapat menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian-bagian utama dari kebudayaan, yaitu ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.
    4. Progressivisme adalah satu filsafat transisi antara dua konfigurasi kebudayaan yang besar. Progressivisme adalah rasionalisasi mayor daripada suatu kebudayaan yakni (1) perubahan yang cepat dari pola-pola kebudayaan Barat yang diwarisi dan dicapai dari masa ke masa, (2) perubahan yang cepat menuju pola-pola kebudayaan baru yang sedang dalam proses pembinaan untuk masa depan.
    5. Progressivisme sebagai ajaran filsafat merupakan watak yang dapat digolongkan ke (1) negative and diagnostic yakni bersikap anti terhadap otoritarialisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti agama, moral, sosial, politik dan ilmu pengetahuan, (2) positive and remedial yakni suatu pernyataan dan kepercayaan atas kemampuan manusia sebagai subyek yang memiliki potensi alamiah, terutama kekuatan-kekuatan self-regenarative (diperbaharui sendiri) untuk menghadapi dan mengatasi semua problem hidup.[13]
    6. D.                Prinsip-prinsip Aliran Progressivisme
      1. Proses pendidikan menemukan asal-muasal dan tujuannya pada anak. Menurut teori progresif, anak (subjek didik) mempunyai suatu keinginan alami untuk belajar dan menemukan berbagai hal tentang dunia di sekelilingnya. Ia tidak hanya mempunyai keinginan bawaan lahir (inborn), melainkan juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Keinginan dan kebutuhan itu memberi anak ketertarikan tertentu untuk mempelajari berbagai hal yang akan membantunya memecahkan problem-problem dan karena itu memenuhi keinginan-keinginannya.[14]
      2. Subjek-subjek didik adalah aktif bukan pasif. Para subjek didik adalah makhluk dinamis yang secara alamiah berkeinginan untuk belajar dan akan belajar jika mereka tidak dibuat frustasi dalam belajar.[15]
      3. Peran guru adalah sebagai penasihat, pembimbing, dan pemandu, daripada sebagai rujukan otoriter (tak bisa dibantah) dan pengaruh ruang kelas.
      4. Sekolah adalah sebuah dunia kecil (miniature) masyarakat besar. Pendidikan di sekolah-sekolah perlu dilihat dalam kaca mata pandang bagaimana orang-orang itu dididik dan diajar dalam dunia yang lebih luas di sekeliling mereka, karena pendidikan berarti adalah kehidupan itu sendiri dan tidak mengambil tempat pada dunia tersendiri dalam dinding-dinding sekolah.[16]
      5. Aktivitas ruang kelas memfokuskan pada pemecahan masalah daripada metode-metode artificial (buatan) untuk pengajaran materi kajian
      6. Atmosfer sosial sekolah harus kooperatif dan demokratis. Para subjek didik tidak akan dapat disiapkan menjadi orang-orang dewasa yang demokratis jika mereka tumbuh berkembang dalam institusi pendidikan yang otokratik. Sekolah harus mengembangkan kepemimpinan subjek didik, diskusi yang bebas tentang berbagai ide, gagasan, dan pelibatan subjek didik dan kejuruan (fakultas), baik dalam belajar maupun dalam perencanaan pendidikan. [17]
      7. E.                 Implikasi Progressivisme dalam Pendidikan
        1. Tujuan Pendidikan

Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, di mana siswa akan belajar dan praktik keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dengan pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena realitas berubah terus-menerus, kaum progresif tidak memusatkan perhatiannya terhadap body of knowledge yang pasti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme. Kaum progresivis menekankan “bagaimana berpikir”, bukan “apa yang dipikirkan”.[18]

Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri. Di mana kebudayaan sangat dibutuhkan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.[19]

  1. Kurikulum dan peranan guru

Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam inkuiri dan metode problem solving.

Peranan guru adalah membimbing siswa-siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini, karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.

Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berpikir interdisipliner, kreatif, dan cerdas.[20]

  1. Kedudukan peserta didik dan pendidik

Progressivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif. Aliran ini menganggap pendidikan harus terpusat pada anak didik, bukannya pada guru. Disini anak diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga anak memiliki kualitas dan terus maju sebagai generasi yang siap menghadapi masa depan. Filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang mengekang anak didik, yaitu pendidikan yang memaksa siswa menerima apapun yang dikatakan oleh gurunya, tanpa diberi kebebasan sama sekali untuk bersikap dan berbuat. Pendidikan seperti itu hanya membuat daya kreasi anak didik tidak berkembang.

  1. Peserta didik

1)      Pendidikan berpusat pada anak

Pendidikan progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat pada anak. Anak merupakan pusat dari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Manurut Parker, mengajar yang bermutu berarti aktivitas siswa, pengembangan keproibadian siswa, studi ilmiah tentang pendidikan, dan latihan guru sebagai seniman pendidikan.

2). Tiap anak adalah unik

Pendidikan progresivisme sangat memuliakan harkat dan artabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, anak adalah anak yang sangta berbeda dengan orang dewas. Setiap anak (menurut Parker), mempunyai individualitas sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan dan kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian anak harus diperlakukan berbeda dengan orang dewasa.

  1. Pendidik

1) Guru dalam melakukan tugasnya dalam praktek pendidikan berpusat pada anak mempunyai peranan sebagai : fasilitator, motivator, dan konselor

2)   Guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang karakterisatik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan kepada anak, agar dapat melaksanakan peranan-peranan dengan baik

  1. Metode

Metode pembelajaran Learning by Doing (belajar sambil berbuat) dan Problem Solving (pemecahan masalah) merupakan metode yang cocok dengan aliran progressivisme ini, karena disini anak diajak untuk ikut terlibat dalam proses belajar, bukan hanya mendengarkan guru menjelaskan. Pengetahuan yang didapat oleh anak didik dengan cara melakukan, menemukan, dan menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya akan lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang didapat dengan cara menghapal, karena pengalaman dan eksperimen merupakan kata kunci dalam kegiatan belajar. Aliran progressivisme membuat siswa menjadi terdorong untuk membuat hubungan antara salah satu mata pelajaran dan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.[21]

Ada beberapa metode lain yang  dipergunakan dalam pendidikan progresif :

  1. Metode Belajar Aktif

Metode ini lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasiltas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.

  1. Metode Memonitor Kegiatan Belajar

Mengikuti proses kegiatan-kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan tertentu apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar proses berlangsungnya kegiatan-kegiatan belajar tersebut.

  1. Metode Penelitian Ilmiah

Progresif merintis digunakannya motode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep, sedangkan metode pemecahan masalah lebih tertuju pada pemecahan masalah-masalah kritis.

  1. Pemerintahan Belajar

Progresif memperkenalkan pemerintahan pelajar dalam kehidupan sekolah (student government) dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah, sehingga pelajar diberikan kesempatan untuk turut serta dalam penyelenggaraan kehidupan di sekolah.

  1. Kerjasama Sekolah dengan Keluarga

Pendidikan progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan seluas-luasnya untuk dapats ter-ekspresi-kan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.

  1. Sekolah sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan

Pendidikan progresif menganjurkan peranan baru sekolah, tidak lagi hanya tempat anak belajar, tetapi berperanan pula sebagai laboratorium pengembangan gagasan baru pendidikan.[22]

Sekolah sebagai lingkungan pendidikan merupakan tempat pembinaan untuk anak didik dalam rangka mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri anak didik, baik itu bakat, minat, dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Sekolah harus meningkatkan diskusi bebas tentang suatu masalah, partisipasi penuh dalam semua pengalaman pendidikan. Disini guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Guru tetap membimbing anak didiknya dalam kegiatan belajar mengajar, walupun secara tidak langsung. Progressivisme menuntut guru untuk sabar, fleksibel, kreatif, fan cerdas. Yang harus diperhatikan oleh guru adalah anak bukan miniatur orang dewasa yang dapat diperlakukan seperti orang dewasa. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik. Pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah sesuai dengan tingkat dan perkembangan anak.

John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan:

  1.  Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan
  2.  Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman
  3. Memberi motivasi, dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik
  4.  Mengikutsertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak.
  5.  Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan ‘kemerdekaan beraktivitas’, dengan orientasi kehidupan masa kini[23]

Sisi baik dari filsafat pendidikan progressivisme adalah adanya suatu pendidikan yang tidak otoriter. Siswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya. Siswa belajar mencari tahu sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul di awal pembelajaran. Dengan mendapatkan sendiri jawaban itu, siswa pasti akan lebih mengingat materi yang sedang dipelajari. Selain itu, output yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.

Adapun sisi buruk dari filsafat pendidikan progressivisme adalah mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah. Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru, karena siswa dibebaskan untuk memilih aktivitas mereka sendiri.siswa menjadi orang yang memntingkan diri sendiri, ia menjadi manusia yang tidak memiliki self discipline, dan tidak mau berkorban demi kepentingan umum.

 


 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari makalah ini dapat kami simpulkan bahwa teori pendidikan yang dibangun dari filsafat progressivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang  wajar dan dapat menghadapi masalah yang menekan atau mengecam adanya manusia itu sendiri. Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asas Progressivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Berhubungan dengan itu progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.

Implikasi aliran filsafat pendidikan progressivisme dapat kita lihat dari tujuan pendidikan (memberikan keterampilan problem solving bagi peserta didik), kurikulum (yang disusun berdasarkan pengalaman siswa), peserta didik sebagai pusat pembelajaran dan guru berperan sebagai fasilitator, serta metode yang digunakan adalah learning by doing.

  1. B.     Saran

            Dengan mempelajari aliran filsafat pendidikan progressivisme ini, sebagai seorang calon pendidik hendaknya guru menghindari suasana otoriter yang menyebabkan situasi kelas tidak nyaman, sehingga menyebabkan peserta didik tidak respect terhadap mata pelajaran yang diampu; dalam setiap pembelajaran guru hendaknya memberikan suatu pengalaman sehingga pada akhir pembelajaran ada suatu nilai pembelajaran yang terus melekat dalam diri seorang peserta didik, guru harus bersikap demokratis; guru atau pun lembaga pendidikan hendaknya mampu menciiptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan nyaman untuk belajar peserta didik, sehingga dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan atau potensi yang dimilikinya.

 

Daftar Pustaka

Knight, George R. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Gama Media

Iman, Muis Sad. 2004. Pendidikan Partisipatif: Menimbang Konsep Fitrah Dan Progressivisme John Dewey. Yogyakarta:Safiria Insania Press

http://arifahdalili.blogspot.com/2009/09/filsafat-pendidikan-progresivisme.html”  acces 25 Maret 2011. 07.47 AM

Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabetahal 144

www.e-learning.uin-suka.ac.id. Access 25 Maret 2011, 07.38 AM

Syam, M Noor. 1986. Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional


[1] George R. Knight, Filsafat Pendidikan,(yogyakarta: GAMAMEDIA, 2007)hlm 145

[2] Mohammad Noor Syam,Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila,(Surabaya:USAHA NASIONAL ,1986)

[4] Mohammad Noor Syam, …., hlm 227

[5] Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif: Menimbang Konsep Fitrah Dan Progresivisme John Dewey,(Yogyakarta:Safiria Insania Press, 2004). hal 72.

[6] Ibid, hal.73.

[7] George R. Knight. Filsafat Pendidikan. (Yogyakarta: Gama Media,2007). hal 146

[8]  Muis Sad Iman. Ibid. hal 46

[9] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2003). hal 144

[10] Ibid. hal 146

[11] Mohammad Noor Syam, …., hlm 235

[12] www.e-learning.uin-suka.ac.id. Access 25 Maret 2011, 07.38 AM

[13] Ibid. Access 25 Maret 2011, 07.38 AM

[14] George R. Knight. hal 149

[15] Ibid. hal 151

[16] Ibid. hal 153

[17] George R. Knight. hal 156

[18] Uyoh Sadulloh. Ibid. hal 146

[19] Ibid. hal 147

[20] Uyoh Sadulloh. Ibid.hal 148

[22] www.e-learning.uin-suka.ac.id. Access 25 Maret 2011, 07.38 AM

[23] Ibid. Access 25 Maret 2011, 07.38 AM

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2011 in filsafat pendidikan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: