RSS

Perkembangan Religiousitas pada Usia Anak dan Implikasinya dalam PAI

03 Apr

Rasa agama adalah kristal nilai-nilai agama yang berada dalam diri manusia melalui pengalaman sebagai produk dari proses internalisasi nilai agama, nilai agama itu dapat mengkristal ketika proses internalisasi itu dilakukan semenjak usia dini (semenjak manusia dapat menerima informasi), secara  terus menerus (kontinue), juga harus konsisten, serta berkelanjutan.[1]

Rasa agama ini ketika sudah menjadi perilaku  akan menjadi merk dari seorang anak. Proses ini harus dilakukan secara berkelanjutan karena manusia berkembang sampai akhir hayat/ seumur hidup dan bertahap sesuai dengan usianya. Proses internalisasi dalam hal ini yaitu proses pendidikan. Proses internalisasi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

a.       Secara bertahap

Proses yang dilakukan sejak usia dini, dengan cara anak harus mengalami, juga secara konsisten, dan harus secara berkelanjutan. Karena dengan begitu rasa agama akan melekat pada diri anak yang dapat menjadi merk dari seorang anak tersebut. Perilakunya pun akan menjadi suatu rutinitas yang sulit untuk ditinggalkan.

b.      Secara konversi

Proses yang terjadi secara cepat. Ada dua pengertian yaitu: pertama pilihan rasional untuk merubah keyakinan, dikarenakan adanya proses kebingungan rasional terhadap ajaran yang telah lama diajarkan. Kedua adanya ledakan emosinal yaitu karena adanya tekanan jiwa. Karakter dari konversi ini yaitu: datang secara tiba-tiba, merasa lahir kembali, merasa terampuni, keinginan untuk menularkan pengalamannya, sangat bersemangat dalam beragama, mampu berkurban untuk keyakinannya. Ini biasanya terjadi pada remaja.[2]

 

 

 

A. Perkembangan Rasa Agama Pada Usia Anak Dan Implikasi Pada Dunia Pendidikan

Pekembangan agama pada masa anak-anak melalui beberapa fase yaitu:

1.      The fairy tale stage (tingkat dongeng)

Pada fase ini anak memahami tentang Tuhan lebih dipengaruhi oleh fantasi dan emosi daripada sifat rasionalnya. Penanaman rasa ketuhanan diusahakan mampu mengembangkan fantasi anak tentang keMahaan sifat-sifat Tuhan serta ketaatan anak terhadap Tuhan, terutama dikaitkan dengan masalah yang dekat dengan kehidupan anak.

2.      The realistic stage (tingkat kenyataan)

Pada fase ini anak mampu memahami konsep  realistik dan ketuahanan secara konkrit. Pemahamannya melalui hubungan sebab dan akibat. konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama melalui orang dewasa lainnya. Pada masa ini anak-anak tertarik pada aktivitas keagamaan yang mereka lihat yang di kelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka dan segala bentuk amal keagamaan mereka ikuti dengan penuh minat.

3.      Individulistic stage (tingkat individu)

Situasi jiwa  yang mendukung perkembangan rasa ketuhanan pada usia ini adalah kemampuan untuk befikir abstrak dan kesensitifan emosinya. Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.

 

Sebagi makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Dorongan untuk mengabdi yang ada pada diri manusia hakikatnya merupakan sumber keberagamaan yang fitri. Untuk memelihara dan menjaga kemurnian potensi fitrah, maka Tuhan Sang Maha Pencipta mengutus para Nabi dan Rosul. Tugas utama mereka adalah untuk mengarahkan perkembangan potensi bawaan itu kejalan sebenarnya,  seperti  yang dikehendaki Sang Pencipta. Bila tidak diarahkan oleh utusan Tuhan, dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan.

Karakteristik rasa agama pada anak yaitu:

1.      Ideas accepted on authority

Semua pengetahuan yang dimiliki anak semua datang dari luar dirinya  terutama dari orang tuannya. Semenjak lahir anak sudah terbentuk untuk mau menerima dan terbiasa untuk mentaati apa yang disampaikan orang tua, karena dengan demikian akan menimbulkan rasa senang dan rasa aman dalam diri sang anak. Maka nilai-nilai agama yang diberikan orang tua dengan sendirirnya akan terekam dan melekat pada anak. Maka orang tua mempunyai ototritas yang kuat untuk membentuk rasa agama pada anak.

2.      Unreflective

Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas, maka jarang terdapat anak yang melakukan perenungan terhadap konnsep kegamaan yang diterima. Konsep tentang nilai-nilai keagamaan dapat sebanyak mungkin diberikan pada usia anak, dan sebaiknya disampaikan dalam bentuk cerita.

3.      Egocentric

Dimana anak melihat lingkungannya dengan berpusat pada kepentingan dirinya oleh karenanya maka pendidikan agama sebaiknya dikaitkan dengan kepentingan sang anak.

4.      Anthropomorphic

Sifat anak yang mengaitkan sesuatu yang abstrak dengan manusia. Hal ini terjadi karena lingkungan anak yang pertama adalah manusia, sehingga manusialah yang dijadikan sebagai ukuran. Dalam pengenalan sifat-sifat Tuhan terhadap anak sebaiknya ditekankan tentang parbedaan sifat manusia dengan sifat Tuhan.

5.      Verbalzed and ritualistic

Anak sekedar meniru dan melakukan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang dewasa akan tetapi bila perilaku keagamaan itu dilakukan secara terus menerus dan penuh minat akan membentuk suatu rutinitas perilaku yang silit untuk ditinggalkan. Oleh kerena itu pendidikan agama perlu menekankan pembiasaan perilaku dan pembentukan minat untuk melakukan perilaku keagamaan.

6.      Imitativ

Sifat anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya begitu juga dalam perilaku keagamaan anak. Di tambah dengan daya sugesti dan sikap positif orang tua terhadap perilaku yang telah di lakukan akan memperkuat aktifitas anak dalam beperilaku keagamaan. Oleh karena itu menempatkan anak dalam lingkungan beragam menjadi prasyarat terbentuknya rasa agama dalam diri anak.

7.      Spontaneous in some respects

Anak dalam melakukan perilakunya keagamaan kadang-kadang timbul perhatian terhadap masalah kegamaan yang bersifat abstrak. Keadaan tersebut perlu mendapat perhatian dari orang tua.

8.      Wondering

Ini adalah rasa takjub yang menimbulkan rasa gembira  dan heran terhadap dunia baru yang terubaka didepannya. Pada anak rasa takjub ini dapat menimbulkan ketertarikan pada cerita-cerita keagamaan yang bersifat fantastik.

Rasa agama anak adalah hasil dari suat proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang usia remaja.  Dalam proses tersebut di pengaruhi banyak faktor diantaranya yaitu perkembangan kognisi, peran orang tua, peran conscience, guilt, ashame, serta peran interaksi sosial.

Peran hubungan orang tua dan anak dalam perkembangan rasa agama anak, dengan sentuhan orang tua sebagai orang terdekat pada anak potensi rasa agama akan berkembang dengan baik sebagaimana telah diutarakan dalam salah satu karakteristik agama anak adalah hasil imitasi dari para orang-orang terdekatnya. Orang tua memiliki peran yang sangat besar melalui peran tersebut anak dapat menyerap konsep-konsep rasa agama yang berkaitan dengan keimanan, ibadah, maupun muamalah. Ada dua masalah penting yang berperan dalam perkembangan rasa agama melalui proses hubungan antara orang tua dan anak, yaitu cara orang tua berhubungan dengan anaknya serta kualitas dari religiousitas orang tua

Cara berhubungan antara orang tua dengan anaknya menimbulkan suasana emosional tertentu yang akan mempengaruhi situasi emosi dan sikap anak terhadap objek yang menjadi perantara hubungan tersebut. Oleh karena itu hubungan yang positif akan menimbulkan rasa senang dan sikap positif anak terhadap perilaku keagamaan.

Kualitas dari religiousitas orang tua adalah hasil dari proses penyerapan anak terhadap perilaku orang  tua. Semakin tinggi ekspresi perilaku keagamaannya sehingga mudah teramati dan terserap oleh anak. Semua perilaku keagamaan orang tua terserap oleh anak dan akan menjadi bahan identifikasi diri terhadap orang tua.

Peran consiense (kata hati), guilt (rasa bersalah) dan shame (rasa malu) adalah tiga keadaan kejiwaan yang berkembang secara berurutan. Dalam perkembangan rasa agama adalah mekanisme jiwa yang terbentuk dalam proses internalisasi nilai-nilai keagamaan pada usia anak. Kata hati berfungsi sebagai pengontrol perilaku. Pada usia anak perilaku pada awalnya lebih banyak diatur dan dibatasi oleh aturan dari lingkungannya, kemudian secara perlahan mulai terjadi proses internalisasi nilai dan norma, perilaku anak juga mulai dikonrol oleh dirinya sendiri.

Rasa bersalah dan rasa malu adalah reaksi jiwa terhadap perilaku diri yang dianggap tidak sesuai dengan standart nilai dan norma. Ini muncul karena adanya control dari luar diri sang anak yaitu ketika orang tua memberi teguran atau hukuman terhadap perilaku yang dianggap melanggar setandar nilai.

Penanaman nilai-nilai keagamaan yang terjadi sejak dini dalam keluarga terserap oleh anak tanpa ada reaksi dari dalam, karena anak belum mempunyai bahan untuk bereaksi. Ketika anak telah mulai mengenal lingkungan kawan sepermainan, dia mendapatkan pengalaman baru tentang ukuran baik buruk serta benar salah. Pergaulan dengan kawan sepermaianan merupakan kebutuhan yang cukup dominan karena melalui pergaulan itu anak mampu menumbuhkan rasa keberadaan dirinya. Bila standart nilai yang telah ditanamkan dalam keluarga berlawanan dengan kebiasaan yang ada dalam lingkungan kawan sepermainan, anak lebih cenderung mengikuti apa yang diterima oleh kawan-kawannya dan akan terjadi proses pemberotakan anak terhadap standart nilai dalam keluarga. Orang tua dapat mendeteksi secara dini tentang adanya pemberontakan dengan memperhatikan reaksi anak yang muncul setelah mulai bergaul dengan kawan sepermainannya. Pemilihan kawan sepermainan dan kawan sekolah perlu mendapat perhatian dari orang tuanya.


[1] Disampaikan pada diskusi kelas/perkuliahan pada 29 oktober 2010

[2] Disampaikan pada diskusikelas/ perkuliahan pada 31 desember 2010

 
Leave a comment

Posted by on April 3, 2011 in Psikologi Agama

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: