RSS

Konsep Takdir dalam Meningkatkan Mutu SDM

25 Jul

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Persoalan Qadha dan Qadar tidak habis-habisnya dibicarakan orang sampai sekarang dan tidak ada kesepakatan pendapat. Perbedaan pendapat dalam hal tersebut terutama karena adanya beberapa ayat Al-Qur’an yang pengertian lahirnya saling bertentangan. Di satu pihak beberapa ayat menetapkan pertanggungjawaban manusia atas perbuatan-perbuatannya. Dan di pihak lainnya menyatakan bahwa Tuhan yang menjadikan segala sesuatu.

Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia sendiri. Selanjutnya Tuhan bersifat Maha Kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disini timbullah pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan, bergantung pada kehendak mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dalam mengatur hidupnya ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Dan bagaimana konsep yang benar mengenai takdir agar mampu meningkatkan kualitas SDM. Hal inilah yang akan dibahas pada makalah yang berjudul “Konsep Takdir dalam Meningkatkan Kualitas SDM”.

1.2              Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberi penjelasan kepada pembaca mengenai konsep takdir yang benar sehingga nantinya pembaca dapat menyikapi takdir yang ada, tidak terjebak pada pemikiran yang sempit sehingga akan menjadi motivasi dalam hidup untuk terus berusaha dan meningkatkan kualitas diri.

 

 

1.3       Rumusan Masalah

a. Apakah pengertian Takdir?

            b. Ada berapa macam-macam Takdir?

            c. Bagaimana konsep takdir menurut paham Qodariyah dan Jabariyah?

d.Bagaimana konsep takdir dalam keningkatkan Kualitas SDM?

e. Pengaruh Takdir dalam Meningkatkan Mutu SDM

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Pengertian Takdir Berkaitan dengan Qadha dan Qadar Allah

Secara bahasa takdir berasal dari kata qaddara yang terambil dari akar kata qadara yang berarti mengukur, memberi kadar/ ukuran. Dan secara istilah takdir adalah suatu ketetapan Allah akan garis kehidupan seseorang.

Makna qadha Allah ialah hukumnya, yaitu  ketetapan Allah yang mewujudkan hukum yang harus kita kerjakan dan hukum Allah yang merupakan pengwujudan sesuatu. Dan makna qadha diartikan pula penyempurnaan perbuatan, dan mengabarkan sesuatu. Jadi qadha adalah keputusan/ketetapan Allah terhadap semua makhluk-Nya sejak zaman azali.

Qadar, ialah takdir yakni mengatur segala sesuatu secara tertib serta menentukan batas-batas penghujungnya. Atau dengan kata lain qadar adalah segala ketentuan Allah SWT yang terjadi pada setiap makhluk sesuai dengan batas yang telah ditentukan. Qadar disebut juga sebagai takdir Allah yang berlaku bagi setiap makhluk-Nya (telah, sedang, maupun yang akan terjadi)[1].

2.2       Macam-macam Takdir

            Takdir ada empat macam, semuanya termasuk kandungan dari tulisan takdir umum dan semuanya kembali kepada ilmu Allah SWT yang mutlak serta mencakup segala sesuatu.

 

a.                   Takdir Azali

Meliputi segala hal dimana sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai hari kiamat (QS. Al Hadid : 22).

b.                   Takdir ‘Umuri

Takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, rizkinya, perbuatannya, kebahagiaan dan kesengsaraan.

c.                   Takdir Sanawi (tahunan)

Takdir yang dicatat pada malam lailatul qadar setiap tahun. Para mufassir menyebutkan bahwa pada malam itu ditulislah semua apa yang akan terjadi pada satu tahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya telah dicatat dalam lauhul mahfudz [2] (QS Adh Dukhan : 4-5).

d.                  Takdir Yaumi (harian)

Takdir yang diberlakukan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari.

 

2.3 Konsep Takdir menurut Paham Qodariyah dan Jabariyah

                        Menurut aliran Qodariyah  manusia memiliki kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Dalam istilah Inggrisnya dikenal dengan istilah free will dan free act. Dalam paham ini manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Ia berbuat baik adalah atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Disini tidak terdapat paham yang mengatakan bahwa takdir manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan bahwa manusia dalam perbuatan-perbuatannya hanya bertindak menurut nasibnya yang telah ditentukan semenjak azal.[3]

                        Kaum Jabariyah berpendapat sebaliknya. Manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam paham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Jadi Jabariyah berasal dari kata Jabara yang mengandung arti memaksa. Dalam istilah Inggris paham ini disebut fatalism atau predestination. Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha’ dan Qadar Tuhan.[4]

           

2.4       Konsep Takdir dalam Meningkatkan Kualitas Mutu SDM

                        Ada dua dimensi pemahaman tentang takdir yaitu :

a.       Dimensi Ketuhanan

Yaitu sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menginformasikan bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk takdir.

b.      Dimensi Kemanusiaan

Sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menginformasikan bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk berusaha degan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya.

      Dengan kata lain Allah SWT memang berkuasa atas segala makhluk-Nya karena Allah lah pemilik alam semesta ini, tetapi Allah juga maha adil dalam perbuatan-Nya. Jika seseorang membahas kemahakuasaan Allah SWT, maka harus dibarengi dengan membahas kemahaadilan Allah juga, sehingga kita tidak akan terjebak dalam pemahaman qadariyah an jabariyah secara berlebihan. Tugas seorang manusia di dunia ini adalah berusaha dan berdoa secara optimal untuk mendapatkan takdir yang paling baik sehingga apapun yang kita terima di kehidupan ini (baik dan buruk) Insya Allah itu merupakan hal yang terbaik untuk kita karena bisa jadi apa yang terbaik menurut akal manusia justru di mata Allah dianggap sebagai sesuatu yang buruk, begitu pula sebaliknya.

Dengan demikian, setiap mukmin wajib bekerja keras agar tidak jatuh miskin, giat belajar, agar berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat, memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebab kita tidak mengetahui takdir yang mana yang kita perlukan, sehingga setiap mukmin tidak di benarkan berdiam diri dan pasrah kepada takdir Allah, tetapi harus berjuang mencari kemaslahatan dunia dan akhirat, serta berusaha menghindari perbuatan mungkar. “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya”. Jadi, sudah jelas bahwa kita menginginkan sesuatu hendaknya kita berikhtiar, karena melihat firman diatas bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan dirinya dengan cara berikhtiar kepada Allah SWT, dan mengoptimalkan usaha kita dan keridhaan Ilahi.

2.5       Pengaruh Takdir dalam Meningkatkan Mutu SDM
Pengaruhnya antara lain sebagai berikut :
1) Takdir merupakan salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi bersemangat dalam beramal dan berusaha untuk mencapai keridhaan Allah dalam hidup ini.
2) Manusia akan mengetahui kemampuan dirinya sehingga ia tidak sombong, bangga atau tinggi hati.
3) Bisa menumbuhkan keberanian hati untuk menghadapi berbagai tantangan serta menguatkan keinginan di dalamnya.

BAB III

KESIMPULAN

 

Takdir adalah suatu pemberitahuan mengenai telah diketahuinya oleh Allah SWT perihal apa yang ada dan terjadi pada setiap makhluk-Nya. Pengetahuan Allah ini tidak akan memberi bekas apapun pada seorang hamba. Taqdir adalah otonomi Allah dimana manusia tidak akan mengetahuinya kecuali sudah terjadi. Dengan demikian maka keimanan kepada taqdir merupakan kekuatan yang dapat membangkitkan semangat kerja, gairah berusaha, dorongan yang positif untuk meraih kesuksesan hidup.

 Dengan kata lain tugas manusia adalah mencari dan mengusahakan takdirnya yang baik. Suatu takdir akan berubah sesuai dengan usaha dan upaya manusia meskipun Allah telah menetapkan suatu ketetapan dari awal, namun isyarat ilahi menuntut usaha optimal agar nasib dan keadaan yang baik atau yang ingin kita capai. Setelah usaha yang maksimal di sertai doa dan ikhtiar kita serahkan nasib dan takdir. Inilah yang dinamakan sikap pasrah dan tawakal kita pada apa yang kita inginkan.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hanafi, Ahmad. 2001. Teologi Islam. Jakarta: PT Bulan Bintang.

Tim Ahli Ilmu Tauhid. 2008. Kitab Tauhid. Jakarta: Darul Haq.

Ash Shiddieqy, Hasbi. 2001. Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/ Kalam. Semarang: PT Pustaka Rizki Putera.

Nasution, Harun. 2010. Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa dan perbandingan.Jakarta : UI-Press

http : //www.shodiq.com
http ://www.pesantren virtual. com


[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2001), hal 88.

[2] Tim Ahli Ilmu Tauhid, Kitab Tauhid, (Jakarta: Darul Haq, 2008), hal171.

[3] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah perbandingan dan Analisa, (UI-Press, 2010),

 hal 35

[4] Ibid hal 33

 

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2011 in TAUHID dan Pembelajarannya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: